Liputan ini bagian dari “Fellowship Just and Sustainable Energy Transition 2022” yang didukung oleh Climate Tracker Asia.

SIANG itu, hujan gerimis membasahi Dusun Kalipondok di Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. Sejumlah warga yang baru saja selesai kerja bakti, seketika menghampiri warung makan Kusmini (38). Tidak sedikit dari mereka memesan nasi hangat, lengkap sayur dan lauk.

Kusmini mengambil nasi hangat langsung dari penanak nasi yang masih terhubung ke stop kontak. Daya listrik yang tersambung di warung sekaligus rumah ibu tiga anak ini sebesar 900 watt.

“Daya 900 watt ini cukup untuk menyalakan televisi tabung 29 inchi, lemari es, penanak nasi dan mesin cuci. Sebulan saya bayar iuran berkisar Rp 50 ribu-Rp 60 ribu,” kata Kusmini.

Ia mengaku listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Telaga Pucung ikut menggerakkan roda perekonomian. Bahkan gangguan sekecil apapun dapat tertangani dengan cepat oleh petugas, sekalipun tengah malam. Selain itu listrik PLTMH mengalir 24 jam tanpa ada kekhawatiran terjadi pemadaman secara tiba-tiba. Jika ada pemadaman juga ada pemberitahuan sebelumnya.

Lain halnya jika menyambung listrik ke PLN, pemadaman bisa terjadi kapan pun dan tanpa ada pemberitahuan. Karena itu, Kusmini berharap PLTMH tetap dipertahankan sehingga PLN enggan melakukan sambungan listrik di Kalipondok.

Sunarto (49), salah satu perintis PLTMH Telaga Pucung mengatakan, listrik pembangkit mikro hidro mampu menggerakkan roda perekonomian warga Kalipondok. Sekitar 80 persen usaha warga bergantung dengan listrik, bahkan sebagian besar telah merambah pemasaran online. Berkat listrik dari pembangkit mikro hidro, ia bisa menjalankan usaha fotokopi, menjual aneka makanan beku dan minuman dingin. Tagihan listrik di rumah dari pemakaian lemari es, freezer dan mesin fotokopi dalam sebulan rata-rata Rp 100.000.

“Kami sempat hidup tanpa listrik sama sekali, sekira tahun 1980-an, hanya lampu minyak yang menjadi penerangan di malam hari,” kata Sunarto.

Turbin Swadaya

Lalu sekira tahun 1989, masyarakat yang tinggal di tengah hutan lindung negara ini memanfaatkan turbin bertenaga dinamo. Satu turbin untuk 1-2 rumah dan hanya cukup mengaliri listrik tiga buah lampu. Jika siang hari, aliran listrik dari turbin dimatikan dan dinyalakan kembali pada sore hari untuk menjaga turbin agar tidak mudah rusak.

Turbin tersebut dipasang di sepanjang aliran Sungai Mengaji. Setrum listrik dari turbin ke rumah warga mengalir melalui kabel kecil yang disangga tiang dari bambu. Jarak turbin dengan rumah warga sekitar 1,5-2 kilometer. Warga membuat turbin tersebut secara swadaya, berkisar Rp 3 juta-Rp 4 juta. Menurutnya, meski turbin bisa bertahan hingga 10 tahun, tapi kendalanya kincir dari kayu mudah rapuh. Setiap dua tahun sekali, warga harus mengganti kincir lantaran rusak dan biayanya sekitar Rp 300 ribu-Rp 400 ribu.

“Warga tidak lagi memakai turbin, setelah ada bantuan pembangkit listrik tenaga mikrohidro dari TNI pada 2012. Bantuan itu inisiatif salah satu anggota Kodim yang prihatin dengan kondisi warga Kalipendok.,” imbuhnya.

Aliran air Telaga Pucung masuk ke bak penampung PLTMH sebelum melewati penyaring air. (Hartatik)

Selang satu tahun kemudian, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyempurnakan PLTMH tersebut. Dan bantuan PLTMH kedua dari provinsi diresmikan pada 2016, dengan daya 15 Kilowatt (Kw).

“Dulu bantuan PLTMH dari TNI belum ada kwh meter, jadi biaya pemakaian listrik dipukul rata. Daya listrik terpasang di tiap rumah juga maksimal hanya 450 watt,” ungkap Sunarto.

Sedangkan PLTMH bantuan provinsi sudah termasuk instalasi listrik dan kwh meter sama seperti sambungan listrik PLN. Daya listrik terpasang bervariasi, mulai 450 VA, 900 VA hingga 1.200 VA. Selain golongan rumah tangga, pelanggan PLTMH adaa dari golongan usaha seperti hotel di sekitar objek wisata air terjun Cipendok. Adapun besaran tarif ditentukan melalui musyawarah antara pengurus PLTMH dan masyarakat.

Pipa penyalur arus air Telaga Pucung untuk menggerakkan turbin PLTMH di Dusun Kalipucung Desa Karangtengah Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. (Hartatik)

Sesuai Golongan

Zaenal (38), Ketua PLTMH Telaga Pucung menjelaskan, besaran tarif dibedakan sesuai golongan yakni rumah tangga Rp 500/kWh dan usaha Rp 700/kWh. Jumlah pelanggan PLTMH ada 75 rumah, ditambah dua hotel, serta balai RT dan masjid yang digratiskan.

Dalam sebulan pendapatan kotor dari iuran listrik warga terkumpul sekitar Rp 1,5 juta. Dari pendapatan kotor ini, lima orang pengurus mendapat honor 10 persen. Itu artinya masing-masing pengurus menerima honor hanya Rp 30 ribu/bulan. Honor tersebut biasanya diambil di akhir tahun.

“Bagi pengurus, mengelola PLTMH bukan untuk mencari uang banyak tapi lebih pada pengabdian masyarakat,” tutur Zaenal.

Ia merasa puas lantaran pendapatan PLTMH selain untuk membiayai operasional, pemeliharaan dan membayar honor petugas ternyata masih bisa untuk sosial masyarakat. Seperti membantu uang duka sebesar Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta, jika ada warga yang meninggal dunia. Selain itu berupa donasi sebesar Rp 500 ribu ketika dusun menggelar peringatan hari raya kemerdekaan.

“Prinsipnya PLTMH tidak sekedar menghasilkan listrik, tapi ada muatan sosial di dalamnya. Masyarakat ikut memiliki dan menjaga PLTMH agar terus bertahan, sehingga memberi penghidupan di dusun ini,” imbuhnya.

Dengan demikian, lanjutnya, masyarakat bisa mandiri energi sampai kapan pun, sehingga tidak membutuhkan listrik negara. Itu semua karena memaksimalkan potensi air sebagai energi terbarukan yang ramah lingkungan.

Sekretaris Desa Karangtengah, Agus Sulistyono menambahkan, debit mata air Telaga Pucung tidak pernah mengecil. Bahkan pada musim penghujan seperti saat ini, debitnya lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Bulan lalu sampai terjadi banjir, debit air yang masuk ke bak penampung dikurangi. Sebab jika terlalu berlebihan, sedimentasi yang terbawa air tinggi dan bisa menyumbat mesin (generator),” terang Agus.

Bangunan rumah turbin PLTMH Telaga Pucung yang menghasilkan listrik ramah lingkungan untuk warga di Dusun Kalipondok Desa Karangtengah.(Hartatik)

Resapan Air

Menurut Pusat Penelitian Geoteknologi, hutan lindung di Kabupaten Banyumas merupakan kawasan hutan hujan tropis paling terjaga kelestariannya dibanding kabupaten lain yang sama-sama berada di kaki Gunung Slamet. Dan salah satunya berada di wilayah Desa Karangtengah. Seperti diketahui, hutan lindung tersebut berfungsi untuk memelihara tutupan vegetasi, menjaga stabilitas tanah, dan sebagai daerah resapan air sekaligus pemasok air ke dalam sistem reservoir.

Kepala Desa Karangtengah, Karyoto mengatakan, ada pertimbangan khusus PLTMH Teaga Pucung dikelola kelompok yang berasal dari masyarakat setempat. Selain persoalan honor yang relatif kecil, peran serta masyarakat dalam pengelolaan bertujuan agar kelangsungan PLTMH dapat terjaga sehingga bisa terus beroperasi.

Selain itu ada partisipasi warga untuk menjaga pasokan sumber air PLTMH agar mengalir sepanjang tahun. Di antaranya dengan menjaga kelestarian hutan sebagai hulu resapan mata air Telaga Pucung.

“Masyarakat sadar terhadap pentingnya peran hutan sebagai pelindung mata air. Secara berkala, mereka juga membersihkan aliran air telaga agar mesin PLTMH tidak mudah rusak.”

Selain itu, air yang dimanfaatkan untuk menggerakkan turbin PLTMH akan dialirkan kembali menuju ke sungai-sungai di bawahnya seperti Kali Peh, Kali Prukut dan Kali Wadas. Dengan demikian, warga maupun petani tetap bisa memanfaatkan air bersih tersebut. Dengan demikian sejumlah desa di Kecamatan Cilongok tetap terjaga pasokan airnya.

Sekretaris Desa Karangtengah, Agus Sulistyono dan Ketua PLTMH Telaga Pucung, Zeanal mengecek turbin. (Hartatik)

Karyoto menambahkan, tidak ada kendala berarti selama pengoperasian PLTMH. Hanya saja saat ini pihaknya masih mencari dana untuk membeli alat penangkal petir yang berkualitas bagus. Sebab beberapa kali PLTMH sempat tersambar petir sampai rusak.

“Sejauh ini jika ada kerusakan (PLTMH) masih bisa tertangani, termasuk suku cadang fan belt buatan Jerman yang rusak kita siasati dengan produk lokal. Kami masih mencari dana untuk membeli alat penangkal petir yang dipasang di bawah tanah, harganya bisa sampai Rp 50 juta,” terang Karyoto.

Dusun Kalipondok merupakan salah satu daerah yang mampu mempertahankan PLTMH dengan baik hingga kini. Bahkan lebih dari 10 tahun. Kalipondok pernah meraih penghargaan sebagai Desa Mandiri Energi tingkat Provinsi Jateng pada 2020. Atas keberhasilan itu, PLN berniat menyambungkan aliran listrik ke Kalipondok.

“PLN sudah tiga kali membujuk kami, terakhir datang pada 2021. Kami tetap menolak PLN masuk ke Kalipondok,” ungkap Karyoto.

Penolakan tersebut bukan tanpa alasan, melainkan agar PLTMH Telaga Pucung nantinya tidak mangkrak. Ia menilai PLTMH ini adalah aset negara sehingga kelangsungannya harus terus dijaga. Membolehkan PLN masuk ke Kalipondok sama saja, warga membiarkan PLTMH menjadi terbengkalai. Padahal daya listrik yang dihasilkan PLTMH masih berlebih, meskipu semua rumah warga di Kalipondok sudah terjangkau listrik dari energi terbarukan tersebut.

Recent Posts