SEBULAN terakhir Dusun Pesawahan di Desa Gununglurah, Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah kembali gelap gulita. Kondisi ini sama persis seperti 12 tahun silam, sebelum ada Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) yang memasok kebutuhan listrik lebih dari 100 kepala keluarga (KK) di sana.

Warsito (56), Kepala Dusun Satu mengungkapkan, ada kerusakan laher pada kincir PLTMH. Saat ini, pihak operator masih mencarikan pengganti suku cadang yang rusak tersebut. Meski begitu, warga Pesawahan tidak ingin meninggalkan PLTMH. Sementara waktu, mereka justru rela gelap gulita pada malam hari ini semata untuk mempertahankan PLTMH agar tidak mangkrak.

“Kami masih menunggu kiriman suku cadang laher dari Bogor. Mudah-mudahan dalam minggu ini listrik (PLTMH) bisa nyala lagi,” ungkap Warsito, Senin (7/11).

Desa Gununglurah merupakan salah satu desa di kaki Gunung Slamet yang mendapat bantuan proyek PLTMH melalui program desa mandiri energi, inisiasi Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah. Selain Gununglurah, ada beberapa desa terpencil yang mendapat bantuan serupa, yakni di Desa Karangtengah, Sambirata dan Sokawera.

Di Desa Gununglurah ada sekitar 128 KK yang mampu memenuhi kebutuhan listrik secara mandiri berkat PLTMH. Mereka tersebar di Dusun Pesawahan ada 112 KK, dan sisanya 16 KK di Dusun Rinjing. PLTMH pertama kali dibangun di Dusun Pesawahan pada 2010 dengan kapasitas 25 Kilowatt (KW). Dengan kapasitas tersebut, PLTMH mampu mencukupi kebutuhan listrik baik untuk penerangan, televisi bahkan kulkas dan mesin cuci. Semuanya kebutuhan rumah tangga tercukupi dengan suplai listrik dari PLTMH setempat.

Selang dua tahun kemudian, PLTMH berdiri di Dusun Rinjing, berkapasitas 15 Kw. Kedua PLTMH tersebut mengandalkan aliran deras Sungai Mengaji sebagai sumber energi listrik.

“Dusun Pesawahan memanfaatkan aliran deras Sungai Mengaji di hulunya, sedangkan Dusun Rinjing di hilirnya sungai.”

Menurut Warsito, sebelum ada PLTMH atau sekira 1996, warga kedua dusun itu menggunakan kincir air atau turbin yang dihubungkan ke dinamo untuk menghasilkan listrik. Hampir setiap rumah memiliki kincir air hingga 2 unit yang dipasang di sepanjang aliran sungai.

Meski listrik yang dihasilkan turbin kayu ini maksimal hanya sekitar 1 Ampere atau setara 220 Watt, warga sudah senang lantaran rumah mereka tidak lagi gelap di malam hari. Apalagi Perusahaan Listrik Negara (PLN) masih enggan masuk ke dusun yang dikelilingi hutan lindung negara dan hutan produksi pinus tersebut.

Hanya saja kelemahan turbin kayu ini adalah aliran listriknya tidak stabil. Lalu jika ada sampah ataupun air sungai mengalir terlalu deras juga bisa membuat turbin mudah rusak. Mereka pun harus rutin mengecek dan mengganti turbin.

“Kesulitan itu teratasi ketika PLTMH dibangun pada 2010. Warga tidak lagi bolak-balik memperbaiki kincir. Rumah mereka pun mendapat aliran listrik dengan daya dua kali lipat sehingga tidak hanya mengaliri listrik lampu, tapi lebih banyak lagi peralatan elektronik yang bisa digunakan, ,” imbuh Warsito.

Mesin generator PLTMH di Dusun Rinjing Desa Gununglurah Kecamatan Cilongok masih beroperasi sampai sekarang. (Sumber: Hartatik)

Memanfaatkan Sungai

PLTMH dan turbin kayu sama-sama memanfaatkan arus Sungai Mengaji untuk menghasilkan listrik. Pemanfaatan energi baru terbarukan itu sangat menguntungkan warga. Selain ramah lingkungan, warga juga tidak terlalu terbebani dalam membayar iuran bulanan. Layaknya PLN, ada alat meteran yang menghitung pemakaian setiap bulan. Besaran iuran telah disepakati bersama di Dusun Pesawahan yakni Rp 500/Kwh untuk daya 1 Ampere dan Rp 750/Kwh untuk daya 2 Ampere. Rata-rata pengeluaran mereka membayar iuran listrik sebesar Rp 20.000/bulan ditambah abonemen Rp 5.000. Sedangkan besaran iuran listrik di Dusun Rinjing dipukul rata yakni Rp 10.000/bulan.

Penerima manfaat dari PLTMH Pesawahan tidak hanya rumah-rumah milik warga, melainkan juga fasilitas umum, salah satunya adalah sekolah alternatif di dusun setempat yakni Madrasan Tsanawiyah (MTs) Pakis Pesawahan yang didirikan pada 2013. Listrik dari PLTMH mampu menunjang penerangan sekolah dan menyalakan komputer maupun mengisi daya baterai laptop.

Warsito pun bangga, hingga kini warga baik di Pesawahan maupun Rinjing masih enggan beralih ke listrik PLN. Padahal instalasi tiang jaringan listrik telah terpasang di kedua dusun yang berjarak sekitar satu kilometer tersebut.

Di Dusun Rinjing, tiang listrik PLN sudah berdiri di depan rumah warga. Tapi 16 kepala keluarga memilih tetap bertahan dengan listrik dari PLTMH,” ungkapnya.

Begitu pun dengan warga Dusun Pesawahan, dari 115 KK, hanya sekitar 15 KK yang berminat. Itu pun mereka menggunakan dua aliran listrik yakni dari PLTMH dan PLN.

“Kami bangga dengan semangat dan komitmen warga Pesawahan maupun Rinjing. Mereka masih aktif memeliharan PLTMH dan gotong-royong membersihkan aliran sungai,” kata Warsito.

Di Dusun Pesawahan, warga membentuk Kelompok Tirta Mengaji untuk mengelola manajemen operasi PLTMH, mulai dari instalasi, perawatan mesin hingga penarikan iuran. Ketua Kelompok PLTMH Tirta Mengaji, Ali Maksur mengatakan, warga kini tidak lagi repot ke sungai untuk membenahi instalasi atau kabel yang putus. Sebab ada pengurus yang bertugas melakukan pemeliharaan rutin.

“Pemeliharaan dilakukan agar instalasi mampu bertahan lama, serta memastikan jaringan listrik ke rumah warga aman,” kata Ali.

Ia juga mengatakan, selain pemeliharaan yang rutin dilakukan oleh kelompok PLTMH Tirta Mengaji, syarat utama energi berkelanjutan adalah menjaga lingkungan khususnya hutan. Aliran Sungai Mengaji yang berhulu di lereng selatan Gunung Slamet harus terus dijaga terutama keberadaan hutannya. Tanpa hutan, mustahil aliran Sungai Mengaji masih tetap lancar sepanjang zaman.

Iuran Swadaya

Adapun iuran swadaya warga selama ini digunakan untuk pemelihraan rutin mesin. Menurutnya, PLTMH pernah mengalami kerusakan hingga menghabiskan dana sekitar Rp 60 juta. Tapi kerusakan itu bisa teratasi berkat iuran warga tiap bulan. Dalam sebulan, menurutnya, iuran yang terkumpul hanya mencapai Rp 1,5 juta. Dana tersebut juga digunakan untuk membayar honor pengurus sebesar Rp 100 ribu/bulan.

Darsim (43), warga Dusun Pesawahan mengaku semasa menggunakan turbin kayu harus rutin mengontrol, guna memastikan kondisi turbin aman.
Apalagi alirah Sungai Mengaji mengalir deras sepanjang tahun. Hulu sungai yang masih bagus membuat air tidak pernah mengering, bahkan pada musim kemarau panjang sekalipun.

“Dulu listrik dari turbin kayu ke dinamo hanya mampu menghidupkan bola lampu. Nyala lampu tidak stabil, kadang kuat, kadang redup,” ungkapnya.

Namun sejak ada PLTMH, ia tidak lagi menggunakan turbin kayu. Tidak ada masalah dengan PLTMH sampai sekarang. Pasalnya, Kelompok PLTMH Tirta Mengaji sebagai pengelola secara rutin melakukan pemeliharaan.

Sementara itu, Camat Cilongok, Roni Hidayat menjelaskan, ada empat desa di wilayahnya yang memanfaatkan sumber air untuk menggerakkan pembangkit listrik tenaga mikrohidro yakni Karangtengah, Gununglurah, Sokawera dan Sambirata. Keempat desa itu berada di lereng Gunung Slamet, di mana potensi airnya masih bagus.

“Ke depan, potensi PLTMH masih bisa dikembangkan mengingat debit air di empat desa ini masih besar karena berada di hulu sungai, dan sekelilingnya hutan negara masih lebat,” ungkap Roni.

Liputan ini bagian dari “Fellowship Just and Sustainable Energy Transition 2022” yang didukung oleh Climate Tracker Asia.

Recent Posts