Limbah dan sampah: Penyumbang emisi GRK besar yang sering luput dari perhatian

Dibandingkan sektor energi, kehutanan, dan pertanian, sektor limbah kerap dikesampingkan dalam pembahasan soal sumber utama emisi gas rumah kaca (GRK) nasional. Padahal di Indonesia, sektor limbah merupakan penyumbang terbesar metana (CH4)—GRK yang potensi pemanasan globalnya 30 kali lebih besar dari karbondioksida (CO2). 

Peran sektor limbah (waste) dalam pemanasan global tidak main-main.

Pada tahun 2020, sektor limbah menyumbang 3,2% dari seluruh emisi global; 1,3% berasal dari limbah cair (wastewater) dalam bentuk dinitrogen oksida (N₂O) dan metana, dan 1,6% lainnya berasal dari tempat pembuangan akhir (TPA), yang umumnya berupa metana. Jumlah tersebut menempatkan sektor limbah pada peringkat keempat sektor utama penyumbang GRK, setelah sektor energi, AFOLU (pertanian, kehutanan, dan alih guna lahan), dan industri.


Emisi gas rumah kaca (GRK) global berdasarkan sektor 2020
Data oleh Climate Watch, the World Resources Institute (2020),
visualisasi oleh Hannah Ritchie (2020), OurWorldinData.org, CC-BY

Namun, ada satu lagi jenis sampah yang sangat berpengaruh terhadap pemanasan global, yaitu sampah makanan atau food loss and waste (FLW). 

Jika data emisi GRK global disaring kembali berdasarkan jenis aktivitas manusia maka akan ditemukan bahwa 26% emisi GRK berasal dari proses produksi, distribusi, dan konsumsi pangan. Dari persentase tersebut, hampir seperempatnya berasal dari makanan yang tidak termakan dan berakhir menjadi sampah. Sebagian terbuang dalam proses distribusi, baik dalam perjalanan maupun proses penyimpanan dan pemrosesan (15%); sebagian lagi dari sisa makanan rumahan atau produk retail yang berakhir di tempat sampah (9%).

Emisi gas rumah kaca (GRK) global yang berasal dari sampah makanan (2018)
Data oleh Joseph Poore dan Thomas Nemecek (2018), visualisasi oleh Hannah Ritchie, OurWorldinData.org, CC-BY

Jika dijumlahkan, GRK dari jenis sampah makanan bisa mencapai 6% dari emisi GRK global; itu pun belum mengikutsertakan emisi dari proses panen. Studi terkait Ketahanan Pangan pada tahun 2019 menemukan bahwa angka tersebut bahkan dapat mencapai kisaran 8-10% dari angka emisi global. Jika diibaratkan sebagai sebuah negara, sampah makanan merupakan negara penyumbang GRK terbesar ketiga setelah Amerika Serikat dan Tiongkok.

Mendefinisikan limbah, sampah, dan sampah makanan

Meski dialami di seluruh penjuru dunia, tiap negara memiliki konteks masing-masing dalam memahami dan menghadapi permasalahan limbah dan sampah. Di Indonesia, persoalan terkait sampah dan limbah diatur oleh Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 1999 tentang Sampah dan Limbah, Undang-Undang No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, dan Peraturan Pemerintah No. 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya Dan Beracun.

Berdasarkan ketiga peraturan tersebut, limbah dan sampah dibedakan dalam hal skala dan bentuk untuk memudahkan identifikasi.

  • Limbah diartikan sebagai sisa suatu usaha dan/atau kegiatan. Secara umum, limbah biasanya berkaitan dengan proses industri, sehingga dapat berwujud padat maupun cair. Beberapa yang mengandung bahan berbahaya dan beracun, seperti limbah pemrosesan bahan tambang atau sampah medis, disebut limbah B3.
  • Sampah yaitu sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat. Dengan demikian, istilah sampah lebih diasosiasikan pada kegiatan perseorangan, rumah tangga, maupun proses alami tertentu. 

Dari definisi tersebut, sampah makanan dikategorikan sebagai ‘sampah’. Meski demikian, sampah makanan nyatanya tidak hanya dihasilkan oleh perseorangan. Pasalnya, sampah makanan mencakup proses yang panjang—mulai dari panen sampai pembuangan—dan melibatkan banyak pihak.

Berdasarkan kajian Food Loss and Waste in Indonesia dalam kerangka Inisiatif Pembangunan Rendah Karbon (LCDI) oleh Kementerian PPN/Bappenas, sampah makanan (FLW) terbagi ke dalam dua komponen utama, yaitu:

  • food loss, yaitu hilangnya sebagian pangan pada tahap produksi, pascapanen, dan penyimpanan, serta pada saat pemrosesan dan pengemasan, dan
  • food waste, yaitu pangan yang dibuang pada tahap distribusi dan retail, serta konsumsi.

Limbah, sampah, dan pemanasan global: Apa hubungannya?

Limbah dan sampah berkontribusi terhadap pemanasan global melalui pelepasan GRK, terutama gas metana, tergantung pada jenis bahan dan jenis proses yang dialami

Sampah dan limbah yang mengandung bahan organik, semisal sampah dapur atau limbah pabrik makanan, akan mengalami proses dekomposisi atau pembusukan oleh mikroorganisme. Proses ini dapat terjadi dalam dua cara.

  • Anaerobik, yaitu proses dekomposisi tanpa melibatkan oksigen (O2) alias fermentasi, seperti halnya pada pembusukan di ruang kedap udara untuk menghasilkan biogas dan eco enzyme. Proses ini menghasilkan gas metana dan sedikit panas, serta memakan waktu relatif lebih lama.
  • Aerobik, yaitu proses dekomposisi dengan melibatkan oksigen (O2). Proses yang biasa dilakukan di udara terbuka ini berlangsung relatif lebih cepat. Alih-alih metana, produk sampingan yang dihasilkan yaitu panas, air, dan karbon dioksida.

Di tempat pembuangan akhir (landfill) di mana sampah organik kerap bercampur dengan sampah lainnya dan tertimbun selama bertahun-tahun, proses dekomposisi aerobik dan anaerobik terjadi dalam empat fase.

Emisi gas rumah kaca (GRK) global yang berasal dari sampah makanan (2018)
Data oleh diadaptasi dari ATSDR 2008. Chapter 2: Landfill Gas Basics. In Landfill Gas Primer – An Overview for Environmental Health Professionals. Figure 2-1, hal. 5-6. https://www.atsdr.cdc.gov/HAC/landfill/PDFs/Landfill_2001_ch2mod.pdf 

Saat pertama tiba, materi organik sampah akan mengalami kontak langsung dengan udara, sehingga terjadi dekomposisi aerobik yang kemudian menghasilkan karbon dioksida dan sedikit metana. Namun dalam waktu kurang dari setahun, bertambahnya tumpukan sampah baru akan menciptakan kondisi ideal untuk dekomposisi anaerobik yang banyak menghasilkan metana. 

Kedua fase dekomposisi ini akhirnya akan mencapai titik tertentu yang menghasilkan landfill gas (LFG) atau ‘gas TPA’, dengan komposisi metana dan karbon dioksida yang hampir seimbang, serta sejumlah kecil gas lain seperti nitrogen (N), karbon monoksida (CO), dan amonia (NH3). Tergantung pada situasi, perbandingan emisi CO2 dan CH4 umumnya berkisar pada metana 45-60%, karbon dioksida 40-60%.

Sementara itu, sampah anorganik, seperti kaleng atau gelas, umumnya menghasilkan GRK pada proses pemusnahan atau perlakuannya. Misal untuk melakukan pembakaran, baik di pabrik maupun di lingkungan rumah, dibutuhkan bahan bakar yang pada akhirnya akan menghasilkan karbon dioksida dan polutan lain.

Dalam kasus sampah plastik, banyaknya emisi GRK yang dihasilkan bisa ditarik dari asal mula plastik itu sendiri. Plastik merupakan produk turunan dari bahan bakar fosil, seperti minyak bumi atau gas alam, yang sebagian besarnya adalah senyawa karbon.

Sebagaimana halnya material yang berasal dari bahan bakar fosil, seperti bensin atau batu bara, sampah plastik melepaskan emisi karbon yang luar biasa besar saat dibakar. 

Beberapa peneliti bahkan memprediksi bahwa secara global, proses produksi dan pembakaran sampah (incineration) plastik sepanjang tahun 2021 dapat melepas 850 juta ton emisi GRK ke atmosfer. Angka tersebut setara jumlah emisi yang dihasilkan 214 Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara selama setahun.

Bagaimanapun, hitungan tersebut belum mengikutsertakan emisi GRK dari terurainya 8 juta ton plastik yang dibuang ke lautan tiap tahunnya

Serpih plastik (microplastic) yang dihasilkan tidak sekadar membahayakan keanekaragaman hayati laut maupun manusia yang mengonsumsi sari laut secara fisik. Serpih plastik juga mengancam kesehatan plankton, mikroorganisme yang sangat berperan penting dalam menyerap karbon di air maupun di atmosfer. Berkat para plankton, laut telah berperan menyerap sekitar 30-50% emisi karbon dunia sejak awal revolusi industri. 

Situasi sektor limbah dan sampah di Indonesia

Di level nasional, seperti halnya di level global, sektor limbah dan sampah di Indonesia ‘sekadar’ menempati urutan keempat sebagai penghasil emisi GRK terbesar. Meski demikian, sektor ini merupakan penyumbang utama metana (CH4). Hal ini berbeda dari rata-rata sumber emisi metana dunia, yaitu sektor pertanian.

Emisi metana di Indonesia berdasarkan sektor (2016)
Data oleh CAIT Climate Data Explorer via Climate Watch, visualisasi oleh OurWorldinData.org, CC BY 

Sebagian besar emisi metana di tanah air berasal dari TPA, dimana 60% sampah padat berakhir tanpa pemilahan maupun pengolahan. Dengan produksi sampah sebesar 64 juta ton sampah per tahun atau setara 6.500 kali berat Menara Eiffel di Paris, Prancis, potensi emisi metana yang dihasilkan tiap tahunnya dapat mencapai 11.390 ton

Setidaknya dibutuhkan waktu satu dekade bagi 4,7 juta bibit pohon untuk menyerap emisi GRK yang sedemikian besar. Pasalnya, molekul metana dapat memerangkap panas di atmosfer 90 kali lebih efektif dari molekul karbondioksida dalam jangka waktu 20 tahun setelah dilepaskan. 

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia menghasilkan 67,8 juta ton sampah sepanjang tahun 2020. Dari angka tersebut, sekitar 40% merupakan sampah makanan (food waste)

Kegentingan permasalahan ini muncul ke permukaan seiring dengan laporan Food Sustainability Index (FSI) tahun 2016 yang disusun oleh The Economist Intelligence Unit bekerjasama dengan Barilla Center for Food and Nutrition. Dalam laporan tersebut, Indonesia disebut sebagai negara penghasil sampah makanan individual terbesar kedua, dengan jumlah 300 kg sampah makanan per orang per tahun. Peringkat pertama dipegang oleh Arab Saudi dengan 427 kg sampah makanan per orang per tahun.

Kementerian PPN/Bappenas melaksanakan kajian Food Loss and Waste in Indonesia pada tahun 2020 sebagai jawaban dari laporan FSI tahun 2016. Dalam kajian tersebut ditemukan bahwa sepanjang periode 2000-2019, jumlah pangan yang terbuang di Indonesia per tahun mencapai 23-48 juta ton, atau setara 115-184 kg per orang. Hampir 60% dari jumlah tersebut merupakan food waste yang berasal dari tahap konsumsi, baik oleh perseorangan maupun retail makanan.

Artinya, sampah makanan di Indonesia bertanggung jawab terhadap emisi GRK sebesar sekitar 85 juta ton CO2e per tahun. 

Selama dua dekade sejak tahun 2000, emisi Indonesia dari sampah makanan mencapai total 1,7 giga ton CO2e, atau setara jumlah emisi yang dapat diserap oleh hutan seluas seluruh Pulau Jawa dan Nusa Tenggara Barat dijadikan satu.

Potensi ekonomi limbah dan sampah

Setiap sampah yang terbuang merupakan peluang ekonomi yang terhilang.

Setiap tahunnya, sampah makanan di Indonesia mengakibatkan kerugian ekonomi yang diperkirakan mencapai 4-5% dari PDB Indonesia, atau sekitar Rp 213–551 triliun per tahun (14,6–37,9 miliar dolar AS). Selain itu, jumlah food loss yang dihasilkan tiap hari sejatinya cukup untuk memberi makan 29-47% dari seluruh penduduk Indonesia. Poin ini perlu digarisbawahi mengingat posisi Indonesia pada Indeks Kelaparan Global (GHI) tahun 2020 baru mencapai peringkat rata-rata, yaitu 70 dari 107 negara yang dianalisis. Artinya, masih banyak jumlah penduduk yang kebutuhan pangannya masih belum tercukupi.

Maka, setiap pengurangan sampah dan kehilangan makanan di setiap tahapan rantai suplai, dapat mengurangi kerugian ekonomi dan emisi GRK secara signifikan. Lantas bagaimana dengan sampah makanan maupun sampah lain yang sudah terlanjur tertimbun di TPA?

TPA pun dapat dijadikan sumber energi terbarukan. Pada dasarnya, gas metana yang terkandung dalam landfill gas (LFG) merupakan salah satu sumber biogas, bahan bakar yang lebih efisien dan minim polusi dibandingkan batu bara. Dengan demikian, LFG dapat dimurnikan menjadi gas alam biologis, yang lebih ramah lingkungan dibandingkan gas alam yang harus ditambang dari perut bumi.

LFG antara lain dapat dikembangkan menjadi:

  • sumber energi listrik bangunan maupun kendaraan,
  • sumber energi termal (contoh: pemanas air),
  • pengganti atau pelengkap bahan bakar konvensional untuk aplikasi termal industrial (contoh: tungku pembakaran keramik, penghangat rumah kaca, dst.),
  • renewable natural gas (RNG) sebagai pengganti gas alam dari fosil.
Ilustrasi proses pengumpulan dan pemrosesan LFG untuk aneka kegunaan.
Data oleh Landfill Methane Outreach Programe, visualisasi oleh United States Environmental Protection Agency (EPA) 

Ekonomi sirkular sebagai solusi masa depan

Produksi sampah dan limbah di suatu negara akan terus meningkat seiring dengan kenaikan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) dan/atau jumlah penduduk. Dengan target kenaikan PDB per kapita sebesar 5-7% dan bertambahnya jumlah penduduk menjadi 319 juta orang pada tahun 2045, kenaikan jumlah konsumsi barang maupun makanan perlu diantisipasi.

Untuk itu, Indonesia perlu segera menerapkan konsep ekonomi sirkular (circular economy) dalam berbagai aspek pembangunan rendah karbon, termasuk di sektor limbah dan sampah. 

Dalam konsep ekonomi konvensional, proses produksi-konsumsi dilihat secara linear atau dalam garis lurus dengan prinsip ambil-pakai-buang (take-make-dispose). Sebaliknya, ekonomi sirkular dicirikan oleh adanya siklus penggunaan kembali sampah dan limbah semaksimal mungkin. Prinsip yang dimiliki pendekatan sirkular, terutama terkait pengelolaan sampah, yaitu berbagi (sharing), menyewakan (leasing), menggunakan kembali (reusing), memperbaiki (repairing), memperbarui (refurbishing), dan mendaur ulang (recycling).

Dengan demikian, tak hanya sampah dan polusi dapat dipangkas, karbon yang dihasilkan dan dikonsumsi pun dapat dijaga agar tak keluar dari siklus dan memperparah pemanasan global. Contoh penerapan ekonomi sirkular antara lain:

  • Perpanjangan masa hidup, pengolahan, dan penggunaan kembali komponen bekas pakai alih-alih produksi komponen baru dari bahan mentah, misalnya dalam cetak biru pembangunan RE: Factory oleh perusahaan kendaraan asal Prancis, Renault,
  • Perbaikan sistem penyimpanan pangan, seperti inovasi Apeel dari Amerika Serikat yang menciptakan pelapis buah dan sayur alami berbasis tanaman dan nonplastik, sehingga bahan pangan dapat bertahan lebih lama dan tidak berakhir menjadi food loss,
  • Praktik pertanian regeneratif (regenerative agriculture), dengan mengusahakan keanekaragaman hayati tanah secara organik, salah satunya lewat pembuatan kompos dari sampah organik, seperti diupayakan oleh jaringan sistem pangan yang dibangun oleh Connect the Dots di São Paulo, Brazil.  

Indonesia telah menunjukkan sinyal positif terkait pendekatan ekonomi sirkular, antara lain melalui kampanye Pembangunan Berketahanan Iklim (PBI) dan implementasi kebijakan Pembangunan Rendah Karbon (PRK). Selain itu, dokumen Kontribusi yang Ditetapkan Secara Nasional (NDC) termutakhir yang disertakan pada konferensi iklim COP 26 lalu juga mencakup beberapa target serta peta jalan untuk pengelolaan sampah yang lebih efektif dan efisien, seperti mengurangi produksi sampah dan limbah hingga 70% pada tahun 2060 atau tercapainya target nol emisi GRK bersih.

Indonesia juga telah menyadari potensi sampah sebagai sumber energi. Melalui Peraturan Presiden No. 35 Tahun 2018, Indonesia telah menginisiasi proyek percepatan pembangunan instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Dari 12 kota/provinsi yang ada dalam daftar, Kota Surabaya menjadi kota pertama yang meresmikan PLTSa pada bulan Mei 2021. 

PLTSa di TPA Benowo, Surabaya ini mengolah sekitar 1.300-1.500 ton sampah per hari dan memiliki kapasitas produksi listrik sebesar 9 MW. Dengan rata-rata konsumsi listrik penduduk Indonesia sebesar 1.012 kilowatt jam (kWh) per kapita per tahun, PLTSa ini mampu mencukupi kebutuhan listrik sekitar 8.893 rumah tangga.

Sebelas PLTSa lain diperkirakan akan mulai beroperasi mulai tahun 2022. Hal ini diharapkan dapat menjadi awal yang baik dalam pengembangan ekonomi sirkular di Indonesia. Meski demikian, upaya untuk mengurangi sampah mulai dari tahap produksi tetap harus digalakan. Untuk itu, kolaborasi baik dengan instansi pemerintah maupun nonpemerintah perlu terus ditingkatkan, begitu pula halnya dengan kampanye dan sosialisasi publik sejak dini.


All texts created by the Climate Tracker Asia are available under a “Creative Commons Attribution 4.0 International Licence (CC BY 4.0)” . They can be copied, shared and made publicly accessible by users so long as they give appropriate credit, provide a link to the license, and indicate if changes were made.


https://ourworldindata.org/emissions-by-sector >> Waste: 3.2%

https://ourworldindata.org/emissions-by-sector >> Annual CH4 emissions by sector

https://ourworldindata.org/co2/country/indonesia >> Methane emissions by sector, Indonesia, 2016

https://www.wri.org/insights/interactive-chart-shows-changes-worlds-top-10-emitters >> This Interactive Chart Shows Changes in the World’s Top 10 Emitters

https://www.iea.org/reports/methane-tracker-2020 >> Methane and climate change

https://www.myclimate.org/information/carbon-offset-projects/detail-carbon-offset-projects/indonesia-waste-management-7117/

http://signsmart.menlhk.go.id/signsmart_new/web/home/emisi

https://envihsa.fkm.ui.ac.id/2020/02/28/ehi-feb-march/

https://lcdi-indonesia.id/grk-pengelolaan-limbah/

https://repository.its.ac.id/53413/

https://health.detik.com/hidup-sehat-detikhealth/d-1405394/apa-beda-sampah-dan-limbah

17% sampah plastik [https://ketik.unpad.ac.id/posts/1065/tahun-2050-diperkirakan-sampah-plastik-akan-lebih-banyak-daripada-ikan-di-lautan ]  

https://gggi.org/sustainable-food-waste-management-contributes-to-low-carbon-development-in-indonesia/#:~:text=According%20to%20the%20results%20of,kilograms%20per%20capita%20per%20year.

https://www.thejakartapost.com/news/2020/09/29/tackling-food-loss-waste-could-benefit-indonesia-on-many-fronts-experts.html

https://www.thejakartapost.com/news/2021/10/25/choosing-and-consuming-sustainability-key-to-indonesias-food-waste-problem.html

http://greengrowth.bappenas.go.id/en/sustainable-food-waste-management-contributes-to-low-carbon-development-in-indonesia/

https://theconversation.com/three-solutions-for-indonesia-to-reduce-food-waste-130413

https://toogoodtogo.org/en/movement/knowledge/the-carbon-footprint

https://ourworldindata.org/co2/country/indonesia

https://lcdi-indonesia.id/2021/06/10/foods-thrown-away-in-indonesia-are-enough-to-solve-its-malnourishment-problem/

https://www.un-page.org/files/public/policy_brief_flw_policy_scoping_west_java_province_1.pdf

https://youtu.be/6RlxySFrkIM

https://youtu.be/fPYVlDpYYF4

https://youtu.be/pxoz88-GXyk


https://ourworldindata.org/emissions-by-sector >> Waste: 3.2%

https://ourworldindata.org/emissions-by-sector >> Annual CH4 emissions by sector

https://ourworldindata.org/co2/country/indonesia >> Methane emissions by sector, Indonesia, 2016

https://www.wri.org/insights/interactive-chart-shows-changes-worlds-top-10-emitters >> This Interactive Chart Shows Changes in the World’s Top 10 Emitters

https://www.iea.org/reports/methane-tracker-2020 >> Methane and climate change

https://www.myclimate.org/information/carbon-offset-projects/detail-carbon-offset-projects/indonesia-waste-management-7117/

http://signsmart.menlhk.go.id/signsmart_new/web/home/emisi

https://envihsa.fkm.ui.ac.id/2020/02/28/ehi-feb-march/

https://lcdi-indonesia.id/grk-pengelolaan-limbah/

https://repository.its.ac.id/53413/

https://health.detik.com/hidup-sehat-detikhealth/d-1405394/apa-beda-sampah-dan-limbah

17% sampah plastik [https://ketik.unpad.ac.id/posts/1065/tahun-2050-diperkirakan-sampah-plastik-akan-lebih-banyak-daripada-ikan-di-lautan ]  

https://gggi.org/sustainable-food-waste-management-contributes-to-low-carbon-development-in-indonesia/#:~:text=According%20to%20the%20results%20of,kilograms%20per%20capita%20per%20year.

https://www.thejakartapost.com/news/2020/09/29/tackling-food-loss-waste-could-benefit-indonesia-on-many-fronts-experts.html

https://www.thejakartapost.com/news/2021/10/25/choosing-and-consuming-sustainability-key-to-indonesias-food-waste-problem.html

http://greengrowth.bappenas.go.id/en/sustainable-food-waste-management-contributes-to-low-carbon-development-in-indonesia/

https://theconversation.com/three-solutions-for-indonesia-to-reduce-food-waste-130413

https://toogoodtogo.org/en/movement/knowledge/the-carbon-footprint

https://ourworldindata.org/co2/country/indonesia

https://lcdi-indonesia.id/2021/06/10/foods-thrown-away-in-indonesia-are-enough-to-solve-its-malnourishment-problem/

https://www.un-page.org/files/public/policy_brief_flw_policy_scoping_west_java_province_1.pdf

https://youtu.be/6RlxySFrkIM

https://youtu.be/fPYVlDpYYF4

https://youtu.be/pxoz88-GXyk


Researcher at Climate Tracker

Has been working at the intersection of Communication, Sciences and Diplomacy for more than five years. A sweet tooth and occasionally dabbles in voice-over. Working alternately from Jakarta and Yogyakarta. Also speaks Indonesian, Javanese and some French.